Oleh: Vanno Witak, SH.
Suka atau tidak, kontestasi politik hari ini bisa dibilang menyedihkan. Kenapa? Karena kita tidak melihat pertarungan ide yang ditawarkan untuk membangun bangsa lima tahun ke depan. Artinya, mereka pun terjebak pada bagaimana menyerang lawan dengan berlomba-lomba menaikkan pernyataan yang saling menyudutkan. Pertarungan semacam itu tentu saja tidak mendidik, karena kita hanya disajikan keburukan-keburukan yang diekspos oleh masing-masing timsus. Hal semacam ini bisa dibilang kemunduran dalam berdemokrasi kita. Bahkan, yang sangat menyedihkan, aktor-aktor politik menjadi produsen hoaks terbesar. Elite politik justru memamerkan kegagapan dalam berdemokrasi. Wacana-wacana negatif dilontarkan seolah-olah kita sedang saling bermusuhan.

Dengan demikian, nilai-nilai kearifan yang kita miliki pun hilang, sopan santun menjadi barang langka dan caci maki menjadi satu-satu jurus handal. Perdebatan mereka yang kerap dibumbuhi cacian dan makian tidak akan pernah selesai, bahkan itu juga tidak akan pernah memberikan nilai pembelajaran bagi masyarakat. Justru, perdebatan semacam itu hanya akan menjadi pemicu ketegangan dan membuat masyarakat terbawa pada pandangan benar dan salah semata.
Akhirnya, kontestasi politik hanya menjadi ladang bagaimana mencari kesalahan orang lain. Di sinilah pentingnya menempatkan perdamaian sebagai nilai yang sangat tinggi. Apapun yang terjadi, perdamaian adalah hak asasi yang harus kita sepakati. Bukankah seharusnya, di atas politik adalah kemanusiaan? Artinya bahwa, sekeras apapun pertarungan politik, perdamaian sesama di atas segalanya.
Politik identitas menjadi alat untuk melakukan propaganda dalam menjaring dukungan. Bahkan, di media sosial perbedaan itu sangat kentara. Media sosial seolah-olah menjadi rumah pertengkaran yang nyaman bagi kedua kubu. Dalam konteks demokrasi yang hanya menghadirkan pasangan calon, polarisasi memang menjadi hal yang lumrah. Namun, dengan catatan, polarisasi itu tidak melampaui batas. Artinya, para calon mendukung dan mengampanyekan visi dan misi dengan batasan-batasan yang rasional, tidak saling serang dengan menebar fitnah dan menutup kebenaran yang ada di pihak lawannya. Cara-cara berpikir oposisi memang harus dihindari. Sebagai sebuah kontestasi politik yang terbuka dan rahasia, sudah semestinya publik disajikan asupan-asupan positif. Sehingga publik bisa berpikir jernih dalam menentukan pilihannya bukan malah terjerat pada polarisasi yang didasari kebencian pada yang lain.
Disinilah pentingnya menempatkan perdamaian sebagai nilai yg penting. Apapun yang terjadi, perdamaian adalah hak asasi yang harus kita sepakati. Bukankah memang demikian, di atas politik adalah kemanusiaan. Artinya, sekeras apapun pertarungan politik, perdamaian sesama di atas segalanya. Oleh karenanya, seruan perdamaian dari elite politik tidak bisa ditawar lagi. Semua masyarakat harus dihimbau untuk menunggu hasil resmi dari panitia pemilihan. Jangan sampai kedua pendukung dibiarkan liar baik di dunia maya maupun dunia nyata dengan asumsi-asumsi sepihak yang hanya memicu ketegangan. Dengan kata lain, hari ini harus dijadikan momen merajut kembali persahabatan. Setelah pencoblosan, tidak ada lagi kamu dan kami yang saling menyudutkan. Ya, apapun hasilnya, siapa pun yang terpilih, itulah keputusan yang harus kita hormati bersama. Semua elemen juga harus saling bahu-membahu untuk mengawal pemerintahan selanjutnya, didukung jika kebijakannya berpihak pada rakyat dan dikritik jika menyimpang dari janji-janji yang sudah dijanjikan. Inilah kedewasaan berpolitik yang semestinya dicontohkan oleh para elite kita. Jika elite politik gagal menanamkan kepercayaan ini, maka demokrasi kita akan berjalan tanpa aturan. Jangan sampai caci maki menjadi tradisi bangsa ini dengan alasan menghakimi dan jangan sampai menghina dianggap sebagai satu-satunya cara yang paling mulia. Singkatnya, membiarkan pertarungan politik dengan mengesampingkan etika, sama halnya dengan membunuh bangsa secara perlahan. Terakhir, seketat apapun pertarungan politik, tetap saja ‘nalar’ jauh lebih penting dibanding ‘perkataan’. Karena sejatinya, kontestasi politik adalah menciptakan nilai perdamaian di balik perbedaan pilihan. VW